Bermain UNO: Degradasi Status Sosial Warung Klontongan

Kehidupan postmodern menciptakan pola-pola konsumsi baru yang merupakan ciri khas dari
kehidupan postmodern tersebut dan membuat orang atau para pembeli bisa menikmati apa-apa yang
disediakan oleh era kehidupan tersebut yang disebabkan oleh khayalan. (Bukan Hadist)
Permainan kartu adalah sebuah usaha dalam mencaikan suasana ketika kita hendak terasa gunda,
dilema, sumput dan sumpek (bahasa jawa) dalam sebuah perkumpulan atau cakrukan dalam bahasa
orang jawa. Selain mudah dan praktis. Dan Permainan Kartu semua kalangan mulai dari dewasa sampai
anak kecil yang tidak tau menau aturan dalam permainan dan satu lagi biasanya dimainkan mas-mas
senja, anak-anak indie (tapi bukan indihome/indigo) atau uga mbak-mbak hijab, ibu-ibu sosialita. Artinya
permainan kartu ini telah mengakar dalam berbagai kalanagan.
Dalam permaian kartu ini banyak macamnya mulai dari kartu Remi, Domino dll. Itu semua modelmodel kartu. Dan di tiap Wilayah, Daerah, Kecamatan, Desa, RT, RW, Bahkan setiap Gang, memiliki aturan
atau bisa kitakan AD/ART la yaa. Sejauh mata memandang, fisik tidak dekatkan dengan seseorang yang
di sayang … Ciyeee.
Kalian sudah tau tidak akhir-akhir ini kartu yang sudah viral nama nya UNO, kartu ini asal kata dari
bahasa spanyol yang artinya “Satu”. Pada tahun 1971 dan di kembangkan oleh Merle Robbins. Coba
bayangkan dulu mulai 1971 sampai 2021 ini berapa tahun? Tapi penulis tidak bahas sejarah yaa. Cuma
QnA sajeeee.
Oke kembali ke pembahasan. Menurut pengalaman empiris penulis ada ketidakadilan dalam
permaian UNO ini, artinya apa. Cobaaa kalian lihat dan berfikir sejenak, kenapa permainan UNO inihanya
ada di CAFÉ, Restoran atau tempat-tempat yang modern dalam insfrastruktur, Kok tidak di warungwarung klontongan, wakrop-wakrop desa, bahkan di tempat perkopian di tepi pelabuhan yang
nomenklaturnya masih klasik.
Ada Percakapan mas-mas atau mbak-mbak senja begini:
mbak :“Bro yuk nongki yuk,
mas : “yuklaa gass”, kemana tapi ?
mbak: “iyaa di café laa, ambil bermain UNO
mas: “adu di warung depan sini saja laa, to juga kita ada UNO juga, Aku bawak ya”
mbak: “waaah gak menarikk itu, cari suasanya yang bedah laa, masak main uno di warung
klontongan kek gitu”
to be continued ………………….
Dari sini ada beberapa hal tentang rekonstruksi pemikiran yang mengjustifikasi permainan UNO hanya
layak di café-café tidak zaman nya di warung-warung klontongan. Ini dalah imbas dari pola konsumen
masyarakat postmodern. Seharunya kita sah-sah saja mau bermain dimana pun tanpa harus melihat
tempat itu. Toh esensi dari permainan adalah untuk menjadikan kemudahan dalam menghidupkan
suasana di sebuah perkumpulan. [mbs]

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *