Pendidikan Inklusi: Tidak Merubah, Hanya Butuh Modifikasi Kurikulum

Sebagaimana anak normal pada umumnya, anak berkebutuhan khusus/ABK juga memiliki hak yang sama dalam menumbuh kembangkan bakat, kemampuan, serta dalam kehidupan sebagai makhuk sosial melalui pendidikan inklusi. Sejak 11 Agustus 2004 Indonesia mendeklarasikan pendidikan inklusi secara formal dengan harapan dapat menggalang sekolah reguler untuk mempersiapkan pendidikan bagi semua anak termasuk difabel. Pasal 31 ayat (1) UUD 1945 menyatakan bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. Demikian pula setiap ABK berhak memperolah pendidikan pada semua sektor, jalur, jenis dan jenjang pendidikan.

“Pendidikan inklusi hadir bukan untuk mengganti kurikulum tetapi untuk membantu kurikulum dalam mengakomodasi pembelajaran bagi semua siswa. Dalam pendidikan inklusi semua berhak mendapatkan pendidikan yang layak termasuk anak berkebutuhan khusus. Mereka berhak mendapatkan pendidikan yang adil,” terang Ediyanto, S.Pd., M.Pd., Ph.D. Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang ini juga menerangkan bahwa “dalam terapannya di kelas misalkan ada anak penyandang tunanetra titik, sementara anak itu memiliki hambatan dalam penglihatannya. Sehingga ketika dia berada di kelas reguler atau bersama dengan anak pada umumnya di sekolah inklusi, guru atau sekolah wajib menyiapkan atau memodifikasi kurikulum agar sesuai dengan anak tunanetra tersebut. Dalam benak kita akan berpikir bahwa kehadiran anak tunanetra ini akan menghambat jalannya pembelajaran di kelas titik namun dalam pandangan pendidikan inklusi sebenarnya kehadiran siswa dengan tunanetra itu akan dapat memaksimalkan pembelajaran di kelas.”

Lantas apa yang harus kita siapkan dalam pembelajaran inklusi? Guru atau sekolah harus menyiapkan sebuah media pembelajaran atau model pembelajaran yang dapat memaksimalkan media interaktif atau pembelajaran interaktif yang berbasis audio. Bukankah dengan media interaktif atau model pembelajaran interaktif ini siswa lainnya juga akan terbantu. Siapa siswa yang tidak senang apabila di kelas terdapat media atau model pembelajaran yang interaktif dengan berbasis audio. Sehingga dalam pendidikan inklusi yang dilakukan adalah hanya memodifikasi kurikulum bukan merubahnya dan pada akhirnya pembelajaran di kelas pun dapat diterima oleh semua siswa di kelas tanpa memandang latar belakang siswa.

Adapun pentingnya pendidikan inklusi untuk terus dikembangkan adalah karena memiliki kelebihan dan manfaat baik bagi ABK maupun nonABK. Sekilas tinjauan literasi, menurut Staub dan Peck (1994/1995) terdapat lima manfaat atau kelebihan program inklusi, antara lain: (1) Berdasarkan hasil wawancara dengan anak non ABK di sekolah menengah, hilangnya rasa takut pada anak berkebutuhan khusus akibat sering berinteraksi dengan anak berkebutuhan khusus; (2) Anak non ABK menjadi semakin toleran pada orang lain setelah memahami kebutuhan individu teman ABK; (3) Banyak anak non ABK yang mengakui peningkatan selfesteem sebagai akibat pergaulannya dengan ABK, yaitu dapat meningkatkan status mereka di kelas dan di sekolah; (4) Anak non ABK mengalami perkembangan dan komitmen pada moral pribadi dan prinsip-prinsip etika; dan (5) Anak non ABK yang tidak menolak ABK mengatakan bahwa mereka merasa bahagia bersahabat dengan ABK.

Dengan demikian orang tua murid yang tidak memiliki anak dengan kebutuhan khusus tidak perlu khawatir bahwa pendidikan inklusi akan merugikan pendidikan anaknya, justru sebaliknya bahwa pendidikan inklusi malah akan menguntungkan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *