Tingkatkan Kompetensi Guru Inklusi, LP2M Universitas Negeri Malang Gelar Pelatihan Bersama HUMANIST Center

Pendidikan inklusi saat ini telah ada di setiap level (tingkatan) lembaga pendidikan, mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Sebagaimana termuat dalam UU No. 2 tahun 1989 pasal 5 bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan. Hal ini sejalan dengan fungsi pendidikan nasional, yakni dalam rangka upaya mewujudkan tujuan nasional dengan mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia. Tujuan pendidikan nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan tersebut maka setiap warga negara memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan.

Melalui hibah program pengabdian kepada masyarakat, LP2M Universitas Negeri Malang bermitra dengan HUMANIST menyelenggarakan kegiatan pendampingan peningkatan kompetensi guru sekolah inklusi secara virtual pada 7 Agustus 2021. Kegiatan ini dibuka oleh Dr. Asep Sunandar , S.Pd, M.AP, KPs S2 Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Malang. Dalam sambutannya Dr. Asep menerangkan bahwa hak anak inklusi untuk mendapatkan pendidikan yang layak harus ditopang dengan keterampilan guru yang kompeten dibidang inklusi. Oleh karenanya, melalui workshop/pelatihan ini para peserta yang mayoritas merupakan guru atau pendidik di sekolah inklusi akan difasilitasi modul-modul pendidikan inklusi agar menjadi kerangka acuan dalam implementasinya di lembaga pendidikan masing-masing. Selain itu, dengan adanya forum ini para guru inklusi dapat berkonsultasi dengan para pakar yang menjadi narasumber sekaligus dapat berdiskusi dengan para pendamping dan fasilitator yang sudah ditugaskan.

Kegiatan ini diikuti oleh >50 orang peserta dari berbagai daerah di Indonesia, dan dilaksanakan secara virtual dengan memanfaatkan teknologi google-meet karena pendemi covid-19. Adapun paparan modul pelatihan terdiri dari:

  • Pemaparan Modul 1 oleh Risa Safira Ramadhani
  • Pemaparan Modul 2 oleh Bella Dina Fitrasari
  • Pemaparan Modul 3 oleh Nindya Ayu Rizqianti
  • Pemaparan Modul 4 oleh Silvana Rahma Iswahyudi
  • Pemaparan Modul 5 oleh Ni’matul Lailiyah

Diskusi dalam forum ini diawali oleh salah satu peserta, Deby Okta Harisanty, terkait dengan “bagaimana jika ada penolakan lembaga pendidikan terhadap calon peserta didik yang berkebutuhan khusus?”, dan pertanyaan ini mendapatkan respon dari beberapa narasumber. Ediyanto, M.Pd., Ph.D menerangkan bahwa Indonesia telah memiliki regulasi untuk permasalahan tersebut, namun demikian juga bergantung apakah satuan pendidikan memang telah siap sedia dengan menjadikan lembaga pendidikan sebagai sekolah inklusi. Secara praktis sekolah inklusi hanya perlu melakukan modifikasi kurikulum yang integratif agar dapat lebih terbuka bagi peserta didik tanpa membatasi kesempatan bagi siswa inklusi.

Kasus lain diungkapkan oleh salah satu peserta, Ibu Ida RA., bahwa di sekolah kami sangat terbuka bagi siswa inklusi meskipun dalam hal perangkat pendidikan dan sarana pendidikan belum cukup memadai untuk kebutuhan pembelajaran yang integratif di kelas inklusi. Melalui kegiatan ini kami berharap akan mendapatkan kerangka acuan dalam upaya pemenuhian standarisasi pendidikan inklusi yang ideal bagi lembaga pendidikan kami. Dengan adanya modul yang disampaikan dalam kegiatan ini cukup membantu kami dalam mengupayakan hal tersebut.

Selanjutnya Dr. Wiwik Dwi Hastuti, S.Pd., M.Pd menambahkan bahwa para guru inklusi dapat memanfaatkan media pembelajaran terutama yang sudah ter-digitalisasi dan relevan khusus untuk para siswa inklusi guna memudahkan pembelajaran di dalam kelas. Selain itu, melalui kegiatan ini, di sesi terakhir para guru akan dibekali keterampilan dengan praktek dan assessment di sekolah masing-masing.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *