Titipkan Nasib Petani Singkong dan UKM Gaplek ke SGDs Desa

Siapa sangka bahwa Indonesia menjadi salah satu negara penghasil singkong terbesar di dunia. Sebagaimana data yang di release FAO (Food and Agriculture Organization), bahwa Indonesia menghasilkan komoditi singkong ini dengan total produksi sebesar 20.744.674 ton di sepanjang tahun 2016, angka ini menjadikan Indonesia berada di urutan ke-4 setelah Nigeria, Thailand dan Brazil. Nigeria merupakan negara penghasil komoditi Singkong terbesar pertama di dunia, FAO mencatat sepanjang tahun 2016 Nigeria mampu menghasilkan Singkong sebanyak 57.134.478 ton.

Meskipun akumulasinya total produksi domestik terlihat meningkat secara drastis, tetapi Indonesia belum mampu membalap Thailand yang pernah menjadi penghasil singkong terbesar pada dasawarsa sebelumnya. Pada tahun 2004 silam, Indonesia sempat menjadi produsen tepung tapioka terbesar kedua setelah Thailand dengan total produksi mencapai 3.877.100,4 ton pada tahun 2004 (BPS, 2004), salah satu olahan industri yang banyak diproduksi adalah untuk tepung tapioka (Somaatmaja, 2004). Salah satu wilayah yang telah berhasil mengembangkan agroindustri tapioka skala UKM adalah Kabupaten Pasuruan.

Pendapat Muhammad Hermansyah, ST., MT, Akedimisi Teknik Industri Universitas Yudharta Pasuruan, mengatakan bahwa salah satu faktor penting dalam mengupayakan keterberdayaan kelembagaan UKM Gaplek di akar rumput sebagai unit penghasil bahan baku untuk produksi tepung tapioka adalah perlu adanya dukungan dari pemerintah desa setempat untuk memperhatikan nasib mereka dengan menjadikan sektor ini sebagai bagian dari capaian tujuan pembagunan berkelanjutan Desa (Sustainable Development Golas/SDGs Desa).

Sebagai negara agraris prestasi Indonesia dalam mengembangkan berbagai produk pertanian khususnya pertanian ubi kayu sebagai bahan baku untuk memproduksi tepung tapioka ini telah mengalami kemerosotan. Kurangnya peran pemerintah disektor ini membuat Indonesia kini menjadi importir tepung tapioka terbesar di dunia. Pesatnya pertumbuhan industri makanan, minuman, farmasi, dan industri lainnya yang membutuhkan tapioka sebagai bahan baku utama kurang mendapatkan perhatian.

Dalam lima tahun terakhir konsumsi tapioka di Indonesia meningkat rata-rata 10,49% per tahun. Sebagaimana survey CDMI, pada tahun 2009 konsumsinya mencapai 2,25 juta ton, di tahun 2013 telah mencapai 3,33 juta ton dan diprediksi tahun 2014 mencapai 3,7 juta ton. Sementara rasio pemakaian ubi kayu dari total produksi nasional oleh industri tapioka terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2009 rasionya mencapai 26,0% (5,7 juta ton) meningkat pesat ditahun 2013 menjadi 32,7% (7,79 juta ton) dan diprediksi tahun 2014 akan mencapai rasio 35,4% (8,10 juta ton) .

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *