Teknologi Tepat Guna di Masa Kritis Pandemi

PANDEMI Covid-19, menurut badan kesehatan dunia (WHO), belum akan hilang dalam beberapa waktu ke depan. Pada keseharian kita sekarang, penggunaan alat pelindung diri, seperti masker kain kemudian disarankan untuk setidaknya mengurangi risiko penularan dan mengatasi kebutuhan masker medis yang semakin meningkat. Ketersediaan alat kesehatan, baik untuk perseorangan maupun tenaga medis, sangat dibutuhkan.

Pada awal-awal penanggulangan pandemi global, melalui skema penelitian yang dilakukannya, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Institut Teknologi Bandung (ITB) telah melaksanakan 16 program pengabdian kepada masyarakat. Sejumlah produk hasil penelitian dan pengembangan LPPM-ITB antara lain multi user ventilator, situs web konsultasi dan psikoterapi seni, purwarupa mobile disinfectant untuk iradiasi ultraviolet, kabin sterilisasi masker N-95, pemodelan penyebaran Covid-19 di Jawa Barat, kontainer pembersih APD dengan gas ozon, produksi ribuan APD yang telah didistribusikan ke berbagai rumah sakit, dan masih banyak kegiatan lainnya.

Untuk membantu ketersediaan alat kesehatan, LPPM-ITB mengembangkan multi user ventilator yang mempunyai fungsi seperti ventilator untuk critical care. Pembuatan alat tersebut dipimpin peneliti dari Kelompok Keahlian Instrumentasi dan Kontrol, Fakultas Teknologi Industri (FTI) ITB, Augie Widyotriatmo, Ph.D. Bersama timnya, ia mengembangkan alat bernama Low Cost Multi Use Multi User (LC MUMU). Nama tersebut berasal dari biaya produksi ventilator yang lebih rendah dibandingkan dengan ventilator lainnya, dapat digunakan oleh beberapa pengguna (multiple users) dan ragam manfaat (multi use) karena terdapat empat fungsi.

Untuk perlengkapan disinfektasi, peneliti Kelompok Keahlian Fisika Bumi dan Sistem Kompleks, FMIPA ITB, Dr. Eng. Bagus Endar Bachtiar N. mengembangkan mobile disinfectant high power menggunakan sinar ultraviolet Tipe-C untuk mensterilkan droplet/micro-droplet yang mengandung virus Covid-19. Alat tersebut dirancang khusus untuk digunakan di rumah sakit rujukan Covid-19. Alat ini memiliki power yang cukup besar. Power input-nya sekitar 750-1000 watt dan mampu memancarkan radiasi 25 watt/m2 pada radius 1 meter atau setidaknya mampu memancarkan radiasi UV-C 2.8 watt/m2 untuk ruangan dengan volume sebesar 108 m3 (setara dengan ruangan ukuran 6x6x3 meter). Selain itu, alat ini dilengkapi sistem telecontroller yang dapat dioperasikan menggunakan laptop atau handphone dari jarak jauh.

Dengan daya iradiasi yang besar, alat ini tidak hanya dapat melemahkan virus, tetapi dapat mematikan virus dengan merusak struktur DNA-nya menggunakan energi dari paparan sinar UV. Pancaran energi radiasi UV tipe C ini jauh lebih besar dari kandungan UV tipe C dari cahaya matahari yang relatif minim. Sinar UV tipe C yang terdapat dalam alat tersebut adalah standar sinar UV yang digunakan untuk sterilisasi peralatan dari cemaran mikroba atau patogen.  Sinar UV tipe C perangkat ini memiliki energi irradiasi yang tinggi serta panjang gelombangnya pendek 230 nm.  Perangkat mobile sinar UV ini dilengkapi modul monitor untuk deteksi efektifitas penyinaran (iluminasi), sehingga bisa memastikan cahaya UV bisa menjangkau seluruh sudut ruangan. Dengan dosis sinar jenis ini yang tepat, virus Covid-19 pencemar aerosol serta micro-droplet yang melayang-layang di udara dapat dimatikan.

Sementara itu, untuk menjawab makin meningkatnya kebutuhan masker medis khususnya masker N-95 bagi tenaga kesehatan di rumah sakit dan puskesmas, insinyur ITB menciptakan kabin sterilisasi. Kabin sterilisasi untuk masker N-95 dikembangkan tim Laboratorium Energi Terbarukan FTMD-ITB yang dipimpin oleh Ketua Tim Peneliti, Dr. Yuli Setyo Indartono. Tim mengembangkan kabin sterilisasi dengan memperhatikan pedoman yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan. Terdapat dua jenis teknologi yang digunakan, yakni teknologi ionisasi udara dan teknologi uap hidrogen peroksida pada kabin berukuran 1x1x2 meter kubik..

“Dari berbagai penelitian ilmiah, ion udara negatif bisa merusak struktur bakteri dan virus. Kami juga menggunakan dehumidifier untuk menurunkan kelembapan udara. Jika kelembapan udara rendah, udara akan menyerap air dari masker. Tidak perlu memanaskan masker,” jelasnya. Kemampuan alat ini mendekontaminasi bakteri telah diuji di Laboratorium Mikrobiologi di Sekolah Farmasi ITB oleh Prof. Marlia Singgih Wibowo dan Prof. Pingkan Aditiawati di SITH ITB. “Hasil pengujian memperlihatkan bahwa kabin ini mampu mendekontaminasi koloni bakteri Staphylococcus aureus dan E.coli pada permukaan kasa sebanyak 90% selama 90 menit,” kata Dr. Yuli S Indartono. Kabin ini juga telah diuji di RSHS Bandung dengan hasil baik. Kabin sterilisasi dengan teknologi ionisasi udara telah digunakan di RSHS Bandung, RS Rotinsulu Bandung, dan RS Cibabat Cimahi.

Kabin sterilisasi yang menggunakan uap hidrogen peroksida juga telah diuji di laboratorium mikrobiologi SITH ITB dengan hasil sangat baik. Dengan waktu paparan minimal 10 menit, kabin ini mampu mendekontaminasi koloni bakteri Staphylococcus aureus dan E.coli pada permukaan kasa sebanyak 99,9%. Kabin sterilisasi jenis ini telah diserahkan kepada Rumah Sakit Dustira di Kota Cimahi.

Selain alat kesehatan, LPPM-ITB juga sangat mempertimbangkan dampak kesehatan mental masyarakat akibat Covid-19. Karena itu, Dr. Ira Adriati dari Kelompok Keahlian Estetika dan Ilmu-ilmu Seni, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) bekerja sama dengan psikiater RS Melinda 2 membuat buku saku untuk remaja putri dalam situasi pandemik dan situs web counseling. Tim ini menghadirkan situs konsultasi virtual dan terapi seni ruangempati.com untuk menjaga kesehatan mental, terutama semasa pandemi.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *