Viral – Agama Baha’i: MenAg RI Memberikan Ucapan Selamat Hari Raya, Kontroversial

Beberapa waktu lalu, dunia maya dihebohkan dengan adanya video ucapan selamat hari raya Nauruz 178 EB oleh menteri agama Yaqut Cholil Qoumas kepada kaum agama Baha’i. hal tersebut menjadi pertanyaan besar apakah agama Baha’I sudah resmi atau tidak, sebab baha’I tidak termasuk dari 6 agama yang ada di Indoneisa.  Diketahui agama Baha’i disebut sebagai agama baru yang bukan merupakan cabang dari agama-agama lain. Seperti dikutip dari laman Kemenag, penegasan eksistensi agama Baha’i sebagai sebuah agama independen ini tertuang dalam Seminar Hasil Penelitian yang diselenggarakan oleh Puslitbang Kehidupan Keagamaan pada 22 September 2014. Agama Baha’i ini diketahui merupakan agama baru yang bukan percabangan agama lain.

Baha’i mulai berkembang sejak abad ke -19 tepatnya pada tahun 1844 di Iran, Pendiri agama baha’i bernama Baha’ullah, yang dulunya penganut agama islam kemudian menisbatkan diri sebagai utusan tuhan. Meskipun identik dengan agama Islam, Konsep ajaran Agama Baha’I berbeda dan memiliki ciri khas tersendiri khususnya dalam beribadah, Agama Baha’i melaksanakan sembahyang sebanyak 3 kali sehari dengan tata cara yang berbeda dengan menjadikan kota Akka-Haifa sebagai kiblatnya.  

Berdasarkan catatann kementrian Agama, Baha’i masuk ke Indonesia pada tahun 1878 yang dibawa oleh 2 orang bernama Mustafa Rumi dan Jamal Efendi yang keduanya adalah seorang pedagang. Agama Baha’i bekembang di Indonesia dari waktu ke waktu, namun pada era Soekarno, Baha’i sempat menjadi salah satu organsasi terlarang, hal ini tertulis dalam keputusan presiden No 264 tahun 1962. Dalam disksi daring, Direktur Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS) Universitas Gadjah Mada (UGM), Zainal Abidin Bagir mengungkapkan bahwa Pada tahun ’62, Sukarno pernah mengeluarkan satu keputusan mengenai tujuh organisasi yang dilarang hidup di Indonesia, salah satunya Baha’i, pelarangan tersebut dianggap tidak sejalannya Baha’I dengan kepentingan nasional,  namun pada era Gus Dur, keputusan presiden No 264 tahun 1962 dicabut, dan pada tahun 2000 Baha’I sudah menjadi agama yang sah secara legal. Baru baru ini, Baha’I kembali menjadi perbincangan publik setelah munculnya video ucapan selamat hari raya oleh kementrian agama, dalam video tersebut, beliau menyampaikan:      

“Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh. Salam sejahtera bagi kita semua. Kepada saudarakau masyarakat Baha’i di mana pun berada, saya mengucapkan selamat merayakan Hari Raya Naw-Ruz 178 EB. Suatu hari pembaharuan yang menandakan musim semi spiritual dan jasmani, setelah umat Baha’i menjadikan ibadah puasa selama 19 hari, semoga hari raya ini dapat menjadi kesempatan dan momentum bagi seluruh bangsa kita untuk saling bersilaturahim dan memperkokoh persatuan dan kesatuan, menjunjung tinggi nilai-nilai moderasi beragama bahwa agama perlu menjadi sarana yang memberikan stimulus rohani bagi bangsa Indonesia untuk senantiasa bekerja sama dan maju,”

 Setelah publik bertaya-tanya, kemudian meminta tanggapan kepada Yaqut atas videonya tersebut. Yaqut lantas menjelaskan dasar kehadirannya di acara komunitas Baha’i. Yaqut mengutip UU PNPS No 1 Tahun 1965 sebagai dasar ucapannya tersebut.

“Konstitusi kita tidak mengenal istilah agama ‘diakui’ atau ‘tidak diakui’, juga tidak mengenal istilah ‘mayoritas’ dan ‘minoritas’. Hal ini bisa dirujuk pada UU PNPS tahun 1965 tersebut,” kata Yaqut lewat pesan singkat.

Yaqut menegaskan kehadirannya di acara komunitas Baha’i semata-mata dalam konteks untuk memastikan negara menjamin kehidupan warganya. Hal itu ditegaskan Yaqut sesuai dengan konstitusi dan peraturan perundang-undangan.

Kementrian agama juga menegaskan bahwa tak ada aturan hukum yang melarang adanya agama lain selain agama enam yang diakui di Indonesia, agama ini tetap diizinkan dengan catatan tidak bertentangan dengan peraturan perudangan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *