76 Th Republik Indonesia: Mushasabah Kemerdekaan

Merefleksikan kembali dalam momentum kemerdekan bangsa yang menjadi spirit bersama bangsa ini terlepas dari segala penjajahan ,yang termaktub dalam pembukaan UUD 45 yang berbunyi “kemerdekaan ialah hak segala bangsa oleh sebab itu maka penjajahan di atas muka bumi ini harus di hapuskan,karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan“.
Sontak saja terbayang dalam ungkapan soekarno dalam pidatonya “apa iya kemerdekaan ini memang benar-benar sudah di nikmati dan di rasakan oleh seluruh masyarakat Indonesia, Apa cuma di nikmati segelintir orang yang mempunyai kekuasaan dan modal “.

Menjelang H – 4 perayaan proklamasi kemerdekaan Indonesia, kesekian kali nya kita akan mendengar orasi-orasi yang di lakukan oleh pejabat tinggi negara, politisi, yang berkisar pada berkerja untuk rakyat, itu sudah menjadi nyanyian podium yang bakal juga terpampang di baliho-baliho di jalan kota-kota hingga desa-desa. Kita akan mendengarkan lagi di tengah situasi bangsa yang babak belur wabah virus dan korupsi yang sama-sama membahayakan.

Ungkapan “berkerja untuk rakyat” yang sudah menjadi nyanyian para pejabat tinggi negara dan para politisi, menurut kacamata pribadi saya ada suatu ketidak jujuran dari berkerja untuk rakyat nyatanya bekerja untuk diri sendiri, kelompok dan golongannya sendiri.

“Bekerja untuk rakyat” pada gilirannya meletakkan rakyat sebagai obyek pembangunan. Padahal pemikiran ini telah di tinggalkan dengan adanya pergeseran paradigma pembangunan partisipatif yang menempatkan rakyat sebagai subyek pembangunan. Hal ini terlihat sederhana, namun dengan mudah juga kita melihatnya dengan pola dan laku kekusaan hari ini, tampilan kekuasaan sebagai penafsir tunggal sebagai kebutuhan rakyat yang berlindung di balik kampanye kesejahteraan sosial yang akhir-akhir ini semakin menderu

Seharusnya, “bekerja untuk rakyat” sebentuk frasa, normalitas dari kekuasaan yang demokratis dan popular. Demikianlah konsekuensi logis dari paradigma parsitipatif dan inklusif guna mendorong tatanan sosial masyarakat yang berkeadilan dan berkemakmuran. (Rohman)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *