Melek Teknologi Adalah Ruh Pendidikan Di Era Pandemi

Sudah hampir dua tahun lamanya kita di himbau Stay At Home (tinggal dirumah) dan seluruh aktifitas dikerjakan secara Daring (Dalam Jaringan) serta E-Learning bagi siswa ataupun mahasiswa. Sesuai dengan program pemerintah untuk memutus rantai pandemi Covid-19 (Corona Virus Disease) yang sangat mematikan orang kalau sudah kena virus tersebut. Bukan hanya di Indonesia tapi diseluruh dunia. Sebagaimana kita ketahui, Indonesia merupakan salah satu negara yang terimbas, mulai dari sektor ekonomi, kesehatan, pendidikan. Akibat dari pandemi, menyebabkan diterapkannya berbagai kebijakan untuk memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19.

Perubahan Istilah

Sejak pandemi virus Corona mewabah di Indonesia, pemerintah telah membuat berbagai istilah penanganan covid-19. Terhitung sejak April 2020, pemerintah sudah seringkali menggunakan setidaknya 7 istilah yang berbeda. Mulai dari Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang berlaku 17 April 2020 hingga yang terbaru Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat darurat (PPKM darurat) Jawa-Bali mulai 3 hingga 20 Juli 2021. Pemerintah sudah bolak-balik menggunakan setidaknya 7 istilah yang berbeda. Mulai dari Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang berlaku 17 April 2020 hingga yang terbaru Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat darurat (PPKM darurat) Jawa-Bali mulai 3 hingga 20 Juli 2021.

Sebelumnya, pemerintah juga sempat menetapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Jawa-Bali, lalu diganti lagi menjadi PPKM Mikro sejak Februari 2021. Penetapannya bolak-balik diperpanjang, hingga Presiden kembali memutuskan untuk mengambil pengetatan atau penebalan PPKM Mikro pada Februari hingga Juni lalu. Sayangnya, upaya-upaya penangan tersebut tidak kunjung memberi kabar hangat, justru kasus Covid-19 terus naik. Terakhir, Presiden Jokowi memutuskan menetapkan PPKM Darurat yang dilanjutkan dengan PPKM Level 3 dan 4. Penerapan kebijakan inilah yang menyebabkan, beberapa sektor gabling. Khusus yang akan penulis bahas adalah sektor pendidikan. Pandemi Covid-19 telah menimbulkan dampak yang luar biasa bagi perguruan tinggi terkhusus di ranah pendidikan

Pendidikan dan Teknologi

Sebelum adanya pandemi, Indonesia telah memasuki dimana teknologi industri Revolusi Industri 4.0 merupakan sebuah lompatan besar di sektor industri dimana teknologi informasi dan komunikasi dimanfaatkan sepenuhnya guna mencapai efisiensi yang setinggi-tingginya. Sehingga menghasilkan model bisnis baru berbasis digital. Di era disrupsi saat ini dimana sebuah era terjadinya inovasi dan perubahan besar-besaran yang secara fundamental yang mengubah semua sistem, tatanan, dan landscape yang ada ke cara-cara baru. Akibatnya pemain yang masih menggunakan cara dan sistem lama kalah bersaing.

Implikasi Teknologi di Era Pendidikan Digital

Keputusan bersama menteri pendidikan dan kebudayaan, menteri agama, menteri kesehatan, dan menteri dalam negeri republik Indonesia nomor 03/ KB/ 2021 nomor 384 tahun 2021 nomor hk.01.08/ Menkes/ 4242/ 2021 nomor 440-717 tahun 2021 tentang panduan penyelenggaraan pembelajaran di masa pandemi coronavirus disease 2019 (covid-19). Memutuskan Penyelenggaraan pembelajaran di masa pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) dilakukan dengan: pembelajaran tatap muka terbatas dengan tetap menerapkan protokol kesehatan; dan/atau pembelajaran jarak jauh.

Efek Beragam

Lebih lanjut, penulis menilai ada efek positif dan negatif dari pembelajaran Daring. Suka tidak suka, mau tidak mau para pendidik maupun siswa harus mengikuti pembelajaran daring. Hal tersebut dikarenakan, sebagai langkah antisipasi pemerintah untuk meminimalisir penyebaran Covid di Indonesia. Tranformasi pembelajaran dan sinergi antar pendidikan tinggi diyakini dapat menjadi salah satu kunci perguruan tinggi untuk keluar dari krisis pandemi COVID-19 yang berkepanjangan. Penggunaan virtual learning dalam proses pembelajaran jarak jauh diyakini teknologi informasi yang sudah berkembang pesat saat ini diantaranya e-learning, google class, Whatsapp, Zoom serta media informasi lainnya serta jaringan internet yang dapat menghubungkan dosen dan mahasiswa sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik sebagai mana mestinya meskipun ditengah pandemi virus COVID-19.

Pandemi covid-19 telah mengubah dunia pendidikan mulai dari proses pembelajaran, dimana biasanya dilakukan didalam kelas dengan tatap muka, namun sejak pandemi berlangsung berubah menjadi belajar daring. Dibalik masalah dan keluhan tersebut, ternyata juga terdapat berbagai aforisma bagi pendidikan di Indonesia. Di antaranya mahasiswa maupun dosen dapat menguasai teknologi untuk menunjang pembelajaran secara online ini. Era disrupsi teknologi yang semakin canggih ini, dosen maupun mahasiswa dituntut agar memiliki kemampuan dalam bidang teknologi pembelajaran. Penguasaan mahasiswa maupun dosen terhadap teknologi pembelajaran yang sangat bervariasi, menjadi tantangan tersendiri bagi mereka. Belum Masif. Sebagaimana diketahui, bahwa penggunaan teknologi di lingkup pendidikan di Indonesia belum sepenuhnya teraplikasikan massif. Guru masih harus dituntut membuat RPP (Rencana pelaksanaan Pembelajaran) setiap semester, tahunan bahkan setiap ingin masuk ke kelas. Mencetak kertas berjilid-jilid, namun penggunaannya tidak maksimal.

Minimal penggunaan teknologi di pendidikan hanya saat rekapitulasi nilai akhir siswa yang dicetak dalam bentuk rapot. Begitupun dengan metode pembelajaran yang dipakai saat sekolah tatap muka. Para pendidik cenderung masih banyak yang menggunakan metode lama, seperti ceramah yang hasilnya bagi penulis jauh dari kata maksimal.

Oleh karena itu, dengan kondisi pandemi Covid 19 saat ini, peluang penggunaan tekhnologi harus benar-benar dimanfaatkan. Dengan banyaknya aplikasi umum yang dapat digunakan lebih 100 orang, para pendidik dapat menerapkan metode berbeda dari cara mengajarnya saat di sekolah. Begitupun dengan siswa, belajar dengan wadah utamanya teknologi, akan menumbuhkan aspek pengetahuan lain dari siswa. Seperti mengirim tugas melalui Email, Gmail tanpa harus mencetak kertas berjilid-jilid. Tugas lebih mudah untuk para siswa, hanya dengan modal Smarthphone, akses pengetahuan dapat di update dimanapun, kapanpun. Tenaga pendidik pun serupa, Smartphone yang sekarang sudah mulai mutakhir, dapat dimanfaatkan positif. Rekap nilai siswa, tugas ataupun lainnya bisa dijangkau setiap saat tanpa harus mencari maupun membuat berkas bertumpuk-tumpuk.

Teknologi pendidikan menciptakan cangkupan yang luas saat belajar mandiri. Teknologi pendidikan dapat menciptakan pembelajaran tetap berjalan baik serta mendukung pemerintah dalam upaya menjaga physical distancing sesuai protokol kesehatan. Hal ini juga sesuai dengan arahah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengatakan proses kegiatan belajar mengajar harus dilakukan melalui pembelajaran daring atau jarak jauh (Berdasarkan SE No. 4 Tahun 2020 tentang kebijakan pendidikan dalam masa darurat penyebaran COVID-19).

Dampak yang dirasakan akibat pandemi ini juga membuat pendidikan di Indonesia mulai bereksperimen dengan menciptakan beberapa teknologi pendidikan yang menunjang pembelajaran serta turut aktif mengikuti revolusi industri 4.0. Di zaman yang sudah sangat maju ini, manusia memiliki ketergantungan yang cukup besar tehadap teknologi. Karena hampir segala segala usia seperti anak-anak maupun orang dewasa semua menggunakan teknologi dalam setiap aktifitasnya. Seperti ketika seorang harus pergi untuk bekerja ataupun pergi ke tempat sekolah. (Iqbal/Unipdu)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *