Organisasi Yang Produktif Dalam Kungkungan Pandemi

WHO (World Health Organization atau Badan Kesehatan Dunia) secara resmi mendeklarasikan virus corona (COVID-19) sebagai pandemi pada tanggal 9 Maret 2020.  Artinya, virus corona telah menyebar secara luas di dunia. Istilah pandemi terkesan menakutkan tapi sebenarnya itu tidak ada kaitannya dengan keganasan penyakit tapi lebih pada penyebarannya yang meluas. Ingat, pada umumnya virus corona menyebabkan gejala yang ringan atau sedang, seperti demam dan batuk, dan kebanyakan bisa sembuh dalam beberapa minggu.

Pada saat ini, dimasa pandemi masih kita rasakan di sekeliling kita dan mengakibatkan dimana seluruh aspek kehidupan terimbas, baik pendidikan, perindustrian, perekonomian dan lain sebagainya, hal ini membuat pemerintah mengeluarkan kebijakan.

Bahkan peraturan bagi masyarakat untuk menghimbau agar tidak melakukan kegiatan yang melibatakan orang banyak dan kerumunan, pemerintah menghimbau masyarakat agar untuk menjaga jarak, memakai masker dan mengurangi aktivitas diluar rumah, hal ini sebagai upaya untuk mengurangi proses penyebaran pandemi agar tidak meluas.

Dari kebijakan yang telah diterapkan seperti menjaga jarak, mencuci tangan dan memakai masker awalnya memang terlihat biasa. Namun, seiring berjalannya waktu, kebijakan ini sedikit nya mempengaruhi segala aktifitas, khususnya aktifitas Organisasi.

Jika membahas organisasi, jelasnya tidak lepas dari kumpulan masa banyak. Didalamnya terdapat banyak orang yang mempunyai tujuan yang sama. Organisasi dibedakan menjadi beberapa tipe, yakni organisasi mahasiswa, masyarakat, serta keagamaan. Namun, kali ini penulis akan membahas imbas dari pandemi ke aktifitas organisasi mahasiwa.

Mengapa Organisasi Terimbas?

Sebelum memulai lebih jauh, ada baiknya perlu diketahui definisi organisasi, yaitu secara harfiah pengertian umum, adalah sekumpulan orang yang mencapai tujuan bersama.

Kondisi pandemi, tidak hanya melumpuhakan sektor ekonomi, kesehatan hingga pendidikan saja. Melainkan, sektor sosial seperti aktifitas organisasi juga terimbas.

Jelas saja, larangan untuk berdekatan dan diharuskan untuk menjaga jarak menyebabkan organisasi mahasiswa yang latar belakangnya berada di kampus akan tidak berdaya. Bukan hal baru untuk diketahui organisasi, apalagi dalam lingkup mahasiswa bisa berjalan dan bergerak karena anggota didalamnya sering berkumpul dan bertukar pikiran satu dengan lainnya.

Bisa kita pikirkan bersama, jika jalur utama berjalannya organisasi yakni berkumpul dibatasi, bagaimana gerak kedepannya? Dimana yang seharusnya menjadi agen perubahan dan selalu terdepan dalam menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah, malah mati kutu tidak bersuara.

Lebih lanjut, penulis khawatir jika hal tersebut terus bergelombang terus menerus terjadi. Pasalnya, efektifitas organisasi sangat dibutuhkan dalam menyikapi berbagai isu yang ada. Terlebih, saat pandemi ini, begitu banyak informasi yang dapat dijadikan bahan bagi organisasi mahasiswa untuk bersikap sesuai dengan alurnya.

Solusinya bagaimana?

Di sisi lain, pandemi saat ini melatih kita serta menanamkan kebiasaan untuk menjadi pembelajar mandiri dengan memanfaatkan teknologi tepat guna melalui kelas daring dan juga webinar untuk tetap terlaksananya program studi. Begitu juga dalam berorganisasi, mungkin saja metode pembelajaran daring bisa diterapkan dalam setiap aktifitas organisasi. Untuk wadahnya, penulis rasa tidak perlu bingung. Hanya tinggal memilih platform mana yang sesuai dengan kebutuhan batin organisasi.

Platfom seperti Zoom, Google Meet bahkan Whatsaap sekarang dapat digunakan untuk bertatap muka secara virtual. Dengan itu, masalah yang dihadapi seperti tidak diizinkannya berkumpul secara langsung karena terbentur kebijakan, bisa teratasi. Banyak cara untuk memulai, tinggal bagaimana individu-individu dalam organisasi bisa memanfaatkan wadah yang tersedia. Selain pemanfaatan platform-platfom yang harus dilakukan selanjutnya adalag dapat menanamkan niat berkomitmen dalam organisasi dan motivasi diri dalam diri setiap oknum didalamnya. Untuk membangun dalam organisasi itu sendiri, jika benar-benar niat untuk berubah, kuncinya hanya Belajar dan Memahami. Dengan itu kita sebagai aktor organisatoris tidak terlena dan gagap akan situasi saat ini, tumbuh dan berkembang selayaknya organisasi yang produktif. (ArdiF/Unidpdu/2021)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *