Rohana Kudus: Kritik Gender Dalam Komersialisasi Perempuan

Perempuan adalah bagian dari masyarakat yang berhubungan erat dengan masalah kesejahteraan. Dalam keadaan kriris perekonomian perempuan sebagai objek pertama yang paling merasakan akibat dari krisis tersebut. Akan tetapi dalam keadaan yang krisis, seringkali perempuan lebih mempunyai inisiatif bangkit, melawan dan menggerakkan masyarakat sekitarnya untuk memperbaiki kondisi perekonomian, mulai dari perekonomian keluarga, meluas sampai perekonomian rakyat bah perempuan sendiri menjadi aset pembanguan nasional.

Semua itu tidak menutup kemungkinan di topang dari siklus belajar dalam tatanan akademik yaitu pendidikannya, apakah dia berpendidikan dan sampai mana dia mengejar pendidikan itu.
Sosok Rohana Kudus adalah wanita yang mempunyai komitmen kuat pada pendidikan terutama untuk kaum perempuan. Pada zamanya, rohana termasuk salah satu dari segelintir perempuan yang percaya bahwa diskriminasi terhadap perempuan, termasuk kesempatan untuk mendapatkan pendidikan adalah tindakan semena-mena dan harus dilawan.

Dengan kecerdasan, keberanian, pengorbanan serta perjuanganya, Rohana melawan ketidakadilan untuk perubahan nasib kaum perempuan. Rohana Kudus menurut kami pribadi adalah seorang yang mempunyai idealisme tinggi untuk memerdekakan perempuan, tidak untuk menyamai laki-laki dalam segala harkatnya. Tanpa didasari kawan-kawan perputaran zaman tidak pernah membuat perempuan menyamai laki-laki. Perempuan tetaplah perempuan dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Namun, yang diperjuangkan Rohana Kudus adalah perempuan harus mendapat pendidikan dan perlakuan lebih baik.

Perempuan harus sehat jasmani dan ruhani, berakhlaq dan berbudi pekerti luhur, serta taat beribadah. Semua hal itu hanya akan terpenuhi dengan mempunyai Ilmu pengetahuan. Emansipasi yang ditawarkan dan dilakukan rohana, tidak menuntut persamaan hak perempuan itu sendiri secara kodratnya. Untuk dapat berfungsi sebagai perempuan sejati sebagaimana mestinya, dan juga membutuhkan ilmu pengetahuan dan keterampilan (kognitif dan psikomotorik) sehingga perempuan membutuhkan Pendidikan

Walaupun sekarang perempuan mendapatkan tempat diruang publik yang sangat-sangat luas, bagi saya pribadi, perempuan masih saja termarjinalisasi dari kodrat asalnya. Ia kini menjadi komersialisasi produk yang dibungkus dengan ide nilai-nilai egalitarian dan moderinitas. Mungkin mereka tidak sadar bahwa mereka juga terkekang dengan aturan kapitalisme dan dijadikan barang komoditas oleh para kapitalis untuk produk-produk mereka.

Para perempuan dipaksa untuk kerja rodi Kami pribadi terkadang berfikir apa hubungannya iklan mie dengan tubuh wanita, apa hubunganya iklan mobil dengan goyangan wanita? dan satu lagi mohon maaf, apa hubungannya iklan alat kontrasepsi dengan wanita?

Inilah yang saya maksudkan dengan wanita dijadikan komoditas dagang dieksploitasi hingga kehilangan harga dirinya. Implikasi nya perempuan ingin sama secara keseluruhan dengan laki-laki akibatnya anak menjadi tidak terurus, bahkan menjadi anak pembantu.

Inilah yang kami kritik dari isu gender saat ini yang menginginkan kebebasan tanpa batas. Padahal sejatinya, ketika kita melihat perjuangan para perempuan yang menjunjung tinggi nilai kebebasan dan menjadi wartaman wanita pertama di Indonesia termasuk Rohana Kudus yang meneriakkan nasib kaum perempuan tidaklah menginginkan perempuan menjadi budak. Bahkan menjadi target komersialiasi. Inilah yang harus diwaspadai jangan sampai isu gender yang datang dari barat diterima begitu saja tanpa ada penyaringan

Walaupun ide itu terkesan sangat menguntungkan wanita, harus dilihat terlebih dahulu apakah semua konsepnya sesuai dengan kultur dan agama yang ada di Indonesia. Inilah salah satu kritik kami pada konsep ini tanpa sedikitpun menolak keseluruhan ide ini. Sejatihnya, dalam pikiran kami bukan kesamaan secara simbolik yang diinginkan, melainkan perempuan butuh dihargai, butuh untuk dijadikan patner dalam hidup, butuh didengar pendapatnya, butuh pendidikan, dan lain-lain. Dan ini sejatihnya harus diperjuangkan. (MBS/Rabu/26/08/2021

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *