Tim Pengabdian LP2M UM Gandeng Gelar FGD dan Pelatihan Pesantren Inklusi di Pondok Pesantren Ngalah

Pendidikan inklusi saat ini telah ada di setiap level (tingkatan) lembaga pendidikan, mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Sebagaimana termuat dalam UU No. 2 tahun 1989 pasal 5 bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan. Hal ini sejalan dengan fungsi pendidikan nasional, yakni dalam rangka upaya mewujudkan tujuan nasional dengan mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia. Tujuan pendidikan nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan tersebut maka setiap warga negara memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan.

LP2M Universitas Negeri Malang bermitra dengan HUMANIST melalui program pengabdian kepada masyarakat menyelenggarakan kegiatan pendampingan peningkatan kompetensi pendidikan inklusi pengurus Pondok pesantren Ngalah pada 13 Agustus 2022. Kegiatan ini dibuka oleh Dr. Asep Sunandar , S.Pd, M.AP, KPs S2 Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Malang. Dalam sambutannya Dr. Asep menerangkan bahwa hak santri inklusi untuk mendapatkan pendidikan yang layak harus ditopang dengan keterampilan pengurus yang kompeten dibidang pendidikan inklusi. Oleh karenanya, melalui workshop/pelatihan ini para peserta yang mayoritas merupakan pengurus atau pendidik di sekolah inklusi akan difasilitasi modul-modul pendidikan inklusi agar menjadi kerangka acuan dalam implementasinya di lembaga pendidikan masing-masing. Selain itu, dengan adanya forum ini para pengurus inklusi dapat berkonsultasi dengan para pakar yang menjadi narasumber sekaligus dapat berdiskusi dengan para pendamping dan fasilitator yang sudah ditugaskan.

Forum tanya-jawab atau diskusi kegiatan ini diawali oleh salah satu peserta, Rizqi Saila, terkait dengan “bagaimana jika ada asrama pesantren yang menolak calon santri berkebutuhan khusus?”, dan pertanyaan ini mendapatkan respon dari beberapa narasumber. Ediyanto, M.Pd., Ph.D menerangkan bahwa Indonesia telah memiliki regulasi untuk permasalahan tersebut, namun demikian juga bergantung apakah satuan pendidikan Islam seperti pesantren memang telah siap sedia dengan menjadikan lembaga pendidikan sebagai pesantren inklusi. Secara praktis lembaga pendidikan inklusi hanya perlu melakukan modifikasi kurikulum yang integratif agar dapat lebih terbuka bagi peserta didik tanpa membatasi kesempatan bagi santri inklusi.

Kasus lain diungkapkan oleh salah satu peserta, Iin Neelam M., bahwa di asrama kami sangat terbuka bagi santri inklusi meskipun dalam hal perangkat pendidikan dan sarana pendidikan belum cukup memadai untuk kebutuhan pembelajaran yang integratif di asrama kami. Melalui kegiatan ini kami berharap akan mendapatkan kerangka acuan dalam upaya pemenuhan standarisasi pendidikan inklusi yang ideal bagi kolektivitas pengurus di asrama kami. Dr. Wiwik Dwi Hastuti, S.Pd., M.Pd merespon bahwa para pengurus asrama di pesantren dapat memanfaatkan media pembelajaran terutama yang sudah ter-digitalisasi dan relevan khusus untuk para santri inklusi guna memudahkan pembelajaran di asrama.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *